Beralih ke menu navigasi utama Beralih ke bagian utama Beralih ke bagian footer website
Vol 24 No 1 (2026) / Articles

REVITALISASI KEARIFAN LOKAL BALI: MENGGALI NILAI-NILAI PANCASILA DALAM KISAH JAYAPRANA LAYONSARI UNTUK PENGUATAN KARAKTER PESERTA DIDIK

πŸ”— DOI: 10.46444/suluh-pendidikan.v24i1.1089 πŸ“… Published: Juni 11, 2026
πŸ“

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan merevitalisasi nilai-nilai Pancasila serta dimensi etika
ekokritik dalam cerita tradisional Geguritan Bali Jayaprana Layonsari sebagai materi penguatan
karakter peserta didik. Sastra tradisional sering direduksi sebatas kisah romansa tragis, padahal di
dalamnya terkandung dialektika moral yang kaya. Dengan menggunakan metode kualitatif
deskriptif melalui pendekatan ekokritik sastra dan analisis isi (content analysis), teks Geguritan
Jayaprana Layonsari dibedah secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita ini
memuat tiga refleksi kritis: (1) Alam sebagai subjek moral (sasmita) yang merespons ketidakadilan,
mencerminkan Sila Pertama dan Kedua; (2) Hutan Teluk Terima sebagai ruang marginalisasi akibat
kesewenang-wenangan penguasa yang menegasikan Sila Keempat; dan (3) Hubungan timbal balik
antara mikrokosmos (bhuana alit) dan makrokosmos (bhuana agung) dalam konsep Tri Hita
Karana (khususnya palemahan) yang sejalan dengan Sila Kelima. Simpulan penelitian ini
menegaskan bahwa kisah Jayaprana Layonsari dapat ditransformasikan menjadi media
pembelajaran sastra yang emansipatif untuk menumbuhkan kecerdasan ekologis sekaligus
kecerdasan kewarganegaraan peserta didik di era modern.

πŸ“š

Referensi

  1. Atmadja, N. B. (2014). Ajaran Sri Aksara dalam Kebudayaan Bali: Perspektif Etika Lingkungan dan Sosial. Pustaka Larasan. Garrard, G. (2012). Ecocriticism (2nd ed.). Routledge. Glotfelty, C., & Fromm, H. (Eds.). (1996). The Ecocriticism Reader: Landmarks in Literary Ecology. University of Georgia Press. Kaelan. (2016). Filsafat Pancasila: Proses kultural, genetis, dan historis. Paradigma Karmini, Ni Nyoman, Wiastra, I Gede Gita, Wiratama, I Wayan Agus. (2026). Teori dan Apresiasi Sastra. Denpasar: Pustaka Larasan. Kemendikbudristek, 2022 Panduan Implementasi Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kemendikbudristek Lickona, Thomas. (2012). Mendidik untuk Membentuk Karakter. Jakarta: Bumi Aksara Moleong, L. J. (2018). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda Karya. Naess, A. (1989). Ecology, Community and Lifestyle: Outline of an Ecosophy. Cambridge University Press. Notonagoro. (1980). Beberapa catatan mengenai filsafat Pancasila. Pantjuran Tudjuh. Putra, I. N. D. (2012). Sastra Hindu dan Kontekstualisasi Ekologis dalam Sastra Bali Tradisional.Kajian Budaya Universitas Udayana Ratna, I. N. Kutha. (2005). Sastra dan Cultural Studies:Representasi Fiksi dan Fakta. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Ratna, N. K. (2015). Estetika sastra dan budaya. Pustaka Pelajar. Suastika, I. M. (2005). Satua Tradisional Bali: Refleksi Etika dan Kosmologi. Pustaka Bali Post. Sukmawan, R. (2016). Ekokritik Sastra: Menetas Budaya Ramah Lingkungan dalam Sastra Nusantara. UB Press. Suryasa, W., et al. (2019). β€œLocal Wisdom of Balinese Literature in Building Student Character.” International Journal of Linguistics, Literature and Culture, 5(3), 45-52. Teeuw, A. (2013). Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia. Teeuw, A. (2013). Sastra dan ilmu sastra. Pustaka Jaya. Wiana, I. K. (2007). Tri Hita Karana Menurut Konsep Hindu. Paramita. Windia, W., & Dewi, R. K. (2011). Analisis Sosio-Ekologis Kearifan Lokal Palemahan di Bali. Udayana University Press.
πŸ“ˆ

Usage Chart

Downloads (Line Chart)

Unduhan

Data unduhan belum tersedia.

Views (Bar Chart)

πŸ“Š

Metrics & Statistics

πŸ‘οΈ Views: 0 πŸ“₯ Downloads: 0
🏷️

Kata Kunci

#Jayaprana Layonsari, Ekokritik, Pancasila, Penguatan Karakter, Tri Hita Karana.

Artikel Serupa

1 2 3 > >> 

Anda juga bisa Mulai pencarian similarity tingkat lanjut untuk artikel ini.